PUISI NOVEL CERPEN

Monday, April 03, 2017

PETUALANGAN RANGGA

#episode 3

tepat pukul 14.30saat Rangga kembali dari sumber air, mengsi setiap botol minum yang ia gunakan untuk menampung air persiapan minum dan masak nantinya.
lokasi sekitar tendah terlihat tak berubah, pemilik tenda sebelah juga belum tampak, mungkin mereka berada di puncak pikir rangga.
rangga kemudian memutuskan memasak makan siangnya, kali ini ia mengeluarkan botol berisi tempe setengah matang yang sudah ia siapkan sebelum berangkat, dan dikeluarkan kantong plastik hitam yang berisi beras yang akan ia masak untuk mengembalikan tenagahnnya yang sudah hampir terkuras habis selama perjalanan. peralatan masak yang sudah siap dan kemudian memasak air dengan cangkir stenless teel yang sekaligus ia gunakan sebaga cangkir untuk minum kopi. yang pertama dibuatnya adalah koi kemudian masak nasi kemudian memasak tempe sampai benar benar matang. yang di masak kini di perirkan cukup untuk satu kali makan saja, itu juga sebagai perhitungan agar makanan nantinya tidak terbuang jika tidak di habiskan.

setelah kopi telah masak dilanjutkan memasak nasi dan berikut tempe sambil menikmati kopi hangat yang cukup untuk menaikkan suhu badan dalam suasana dingin di atas ketinggian seperti ini. 2800 MDPL ketinggian yang cukup untuk membuat suasana dingin saat ini. sesekali megecek masakannya rangga mencoba membarinkan badan di atas matras yang ia bentangkan di uar tenda, dengan balutan jaket yang tebal itu membuat tubuhnya tetap hangat dari seluuh terpaan angin yang bertiup sangat dingin di sekitar lembah datar ini.

sejauh mata memandang hanya ada pemandangan hutan yang hijau dan berbatasan langsung dengan langit dan awan yang begitu erkabut seolah olah akan menelanya. rangga mencobah menggenggam badannya dengan kedua lengannya seolah memeluk diri sendiri, mencari kehanngatan di dalammnya.kehangatan yang ia cari ataupun coba ia ciptakan sendiri dari dlam tubuhnya yang sudah lelah itu.
 setelah makanan siap begitu pun dengan kopi hangat yang telah habis ia seruput kemudian rangga melanjutkan makan siang dan membereskan kembali perlengkapannya. sekarang ia akan melanjutkan misinya yang berikut. misi yang dari awal ia rencanakan dengan harapan cuaca dan alam menyetujuinya dengan baik. ia ingin menikmati matahari tenggelam kali ini di atas pucak sampai matahari itu benar benar menghilang dri pandangan, melanjutkan puisi puisinya yang selalu membuat hatnya tenag jika mencurahkan semuanya didalam puisinya. puisi yang selama ini menjadi satu satunya teman yang pas untuknya mencurahkan segala bentuk keceriaan, kesenangan, serta kesedihan yang ia alami. apapun yang ia alami dalam hidup akan ia goreskan menjadi sebuah kata kata dan menjadi satu kesatuan syair yang hanya dia yang bisa mengetahui artinya. menurutnya puisi itu adalah sebuah media yang sangat rahasia dan sangat bisa untuk menjadi curahan hati, itu karena puisi hanya dapat diartikan oleh penulis sendiri. ya memang jika orang lain bisa saja membaca dan menebak nebak arti dan maknanya namun takkan memahaminya secara utuh seperti seorang penulis itu sendiri.

puisi puisi rangga selama ini tak pernah ia publikasikan bahkan takseorang pun ia biarkan untuk membacanya, dalam semua karyanya itu hanya ia tuangkan dalam sebuah buku dan samai saat ini buku buku itu semakin bertambah dan disimpannya dalam sebuah kotak yang keudian dia kuci rapat rapat dalam kamarnya. rangga memang menulis puisi jika ia memiliki kesempata bahkan sebelum tidur saja ia akan mencobah menorehkan tulisannya jika ia memiliki sebua perasaan yang akan ia ceritakan. puisi yang sepertinya bukan sekedar puisi namun sebuah ganbaran kehidupanya selama ini,

pernah ia membuka semua buku buku puisinya dan membaca satu perstu yang ia tulis semenjak ia duduk di bangu smp dan sampai kini rutinitasta it tak pernah hilang bahkan itu sudah menjadi kebiasaannya. saat membacanya satu persatu rangga kadang tertawa sendiri bahkan tertawa ngakak ketika kembali membayangkan momen dimana ia menulis puisinya itu, banyak yang ia lalui dalam hidupnya, bahkan ada beberapa lembar puisi yang sangat menyentu hati yang ia tulis ketika sang ayah meninggalkannya untuk selamanya. kehidupan yang ia lalui seakan akan seperti sebuah film yang diputar ulang dalam pikirannya jika kembali membaca puisi puisinya.

rangga kini melirik jam tangannya yang meleket kuat di pergelangan tangannya, jam tangan yang telah menemani petualangannya sejak tuju tahun yang lalau, sungguh jam tangan yang kuat. jam tangan karet yang hanya menunjukkan waktu itu selalu berada pada pergelangan tangannya kemanpun ia pergi dan itu akan serasa aneh jika ia melirik pergelangannya dan tak menemukannya ada di sana.pukul 16.30. sekarang saatnya merangkat, peralatan yang ia bawa hanya sebotol air minum dan beberapa bungkus makanan ringan serta tak lupa ia masukkan dalam saku jaketnya yaitu buku kecil yang tebalnya sekitar lima sentimeter terbungkus kulit yang sangat kooh, di sanalah sang maha karya ia selalu ciptakan sepanjang perjalanan hidupnya.

rangga mulai melangkahkan kakinya menuju puncak, jarak puncak dari tempatnya berada kini yaitu sekitar 500 meter lagi, jarak yang lumayan akan memakan waktu lagi, ditambah dengan kondisi jalan yang lebih menanjak dan suhu udara yang semakin dingin akan menambah beban percaya diri. namun semangat rangga tak pernah pudar dan slalu berkecamuk dalam dirinya untuk mencapai tujuannya  kini.

langkahnya ia percepat takmau kehilangan momen diatas puncak yang jika terlambat seper sekian menit saja akan mengurangi keindahan yang ia cari, suasana kabut perlahan mulai menghilang itu dikarenakan matahari di puncak lebih terik dibanding dibalik tebing tempat ia mendirikan tenda tadi. disana memang sebuah daerah yang datar dan lebig terlindung dari sinar matahari soreh, namun disana adalah temat yang angat aman untuk mendirikan tenda dan menghindari badai yang bisaya datang saat malam hari. badai itu biasanya akan menerbangkan semua yang ia lalui ketika datang. hal inilah yang paling ditakutkan oleh semua pendaki yang ingin datang dan menikmati suasana puncak gunung ini.

ah...... ini suasanya dan waktu yang pas ! gumam rangga saat mendongakkan kepalanya ketika tepat pada sisi tebing yang ia naiki. jalana dari bawah sana cukup vertikal, cukup membuat kita harus tetap fokus dengan jalan dan berusaha tak tergoda dulu dengan peamandangan sekitar yang kemudian akan indah ketika kita sampai diatas puncaknya. suasana puncak kini begitu tenag dan sangat damai, dengan terpaan angin kencang dari segala arah saling bertautan bagaikan memperebutkan dirinya yang saat ini berada di hadapan mereka. rangga menuju sisi kiri puncak dimana sebuah batu yang nampak berwarna abu abu terlihat kokoh. batu yang tepat untuk berlindung dari tepaan angin kemudian menikmati seluruh mahakarya Tuhan yang ia berikan pada manusia namun tak semua dari mereka dapat menikmatinya.

rangga kini memandang seluruh yang ada di depannya, ia takkan mau menyia nyiakan kesempatan yang dengan susah paya ia gapai ini. semua ia ingin rekam dalam ingatanya, dengan seperti ini semua yang ia lihat akan mampu ia ingat dalam beberapa tahun kedepan dan kemudian dapat ia perbaharui disaat ia punya kesempatan lagi. harapan yang masih sama ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di atas puncak ini, tak ada yang berbeda dengan caranya kini, ia selalu kagum atas semua kadaan yang ia hadapi kini, namun yang berbedah saat dia pertama datang di tempat ini dengan saat ii yaitu tak ada orang yang menemaninya kini, sedangkan dulu ia datang bersama temannya. mereka sebelumnya datang beberapa orang dan kemudian setelah dari sini ragga kemudian mengambil arah petualangannya sendiri yaitu sendiri, seperti saat ini tak ada orang yang menemaninya, itu membuatnya bebas melakukan apapun yang ia inginkan bahkan takperlu menunggu semua temannya tertidur kemudian menorehkan tulisan puisinya, sekarang ia bebas menuis setiap puisi puisinya diana saja.

rangga mencoba berteriak beberapa kali untuk melepaskan letih yang membalut hatinya. dia sadar btul akan hal ini, dia sangat membutuhkannya untuk menyeimbangkan suasana hatinya dengan alam sekitar, namun untuk melakukan hal itu juga ngat membutuhkan keahlian khusus yaitu keinginan. untuk memiliki bakat ii kita perlu melepaskan segala beban entah itu dari hati pikiran serta perasaan yang kita miliki kealam teriakan kita, dalam artian kita harus melepaskan segla beban yang kita miliki bersama suara teriakan kita. hal ini susah susah gampang untuk di lakukan , tergantung dari cara kita melihat dan memaknai kebebasan itu sndiri.

kali ini dengan teriakannya rangga dikagetkan dengan bayangan yang nampak seperti banyangan seseorang yang muncul dari balik semak yang diselimuti kabut,....

#KELANJUTANNYA AKAN DATANG SETIAP HARI
Post a Comment