PUISI NOVEL CERPEN

Sunday, March 26, 2017

PETUALANGAN RANGGA


PERJALANAN HATI


    Di suatu hari dalam perjalanan petualangan yang mengasyikkan dalam hidupnya seorang pemudah tanggung yang dalam kehidupannya memiliki hobby yang menurutnya sangat menantang segala kehidupan baik fisik maupun hati bahkan jiwanya sebagai seorang pendaki gunung.
Dalam kehidupannya Ia ingin sekali mempelajari makna hidup dan segala kebaikan serta keburukan yang akan ia lalui, dan rasa ingin taunya itulah yang membawa dirinya pada petualangan hati yang begitu menguras tenaga pikiran dan hatinya.hingga dalam suatu perjalanan dirinya menantang batas kemampuan fisik dan batinnya. 

    Pada sore itu rangga terlihat bolak balik keluar masuk ruangan kecil di belakang kampus. diatas puntu ruangan itu jels terpampang tulisan besar sebagai penanda sebuah sekretariat UKM pencinta alam kampusnya. dia adalah anggota tetap dari UKM yang aktif beberapa tahun terakhir, disana ia mendapat banyak pengetahuan tentang kehidupan, organisasi dan teman yang semakin hari semain banyak.
Ngaa.... kamu mau kemana ? tanya seorang teman yang datang kemudian melihatnya sibuk mempersiapkan peralatannya sore itu.
ah ngak kok, besok rencana mau nanjak...! kamu mau ikut ngak? tanya rangga balik.
mau najak di mana ? tanya temannya ingin tau.
yang dekat dekat saja bro...! jawab rangga agak acu.

    Memang dari sebagian anggota UKM dikampusnya, Rangga adalah sala satu dari sekian anggota yang lebih memili sebagai pendki yang selalu pergi sendirian.Ia jika ingin pergi ke suatu tempat akan berjalan sendiri tanpa ditemani seorangpun.

    Memang terlihat seperti egois, atau terlihat menyeramkan jika dipikirkan, namun mereka adalah orang orang yang memiliki pikiran dan keinginan sendiri, bahkan mereka juga bukan pribadi yang egois ataupun anti sosial kok. Jika mendengar cerita langsung dari mereka, sepertinya pikiran seperti itu sangatlah bisa ditepis jauh jauh dari mereka, karena menurut mereka menikmati alam itu akan lebih indah jika sendiri, dan akan lebih mudah mengetahui sampai dimana batasan fisik dan mental yang ia punya. intinya bukan egois ataupun anti sosial.

    Pagi pagi benar Angga bangun kali ini dengan segala rancangan dan jadwal keberangkatan yang ia sudah rancang dengan baik kali ini ia akan berangkat. dengan tas besar di punggung dan peralatan lengkap yang telah ia siapkan dengan baik kemarin sore kini ia gendong.
menuju ke parkiran dan memanaskan motor kesayangannya yang selama ini menemani petualangan hidupnya.

      Udarah segar betiup menyejukkan paru parunya, ia menghirupnya dalam dalam seolah mencari sebuah semangat yang diberikan kesejukan itu. dalam keberangkatannya kali ini ia akn menaklukkan puncak gunung tertunggi di pulau ini untuk ke sekian kalinya. memang ini perjalanan yang kesekian kalinya ke puncak gunung ini, namun ada beberapa hal yang selalu menantangnya untuk kembali dan kembali mnaklukkan sang gunung perkasa itu. 

Rangga memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang sambil mendengarkan lagu dari handponenya melaui headset. sepanjang perjalanan pepohonan di pinggir jalan mulai menunjukakan kesejukan dan keramahannya, daun daunnya melambai lambai dengan lembut seolah memberikan sambutan padanya. semakin jauh ia memacu kendaraannya semakin ia merasaakan udarah dingin mulai menusuk lapisan kulitnya. udarah dingin itu seakan membelainya dengan kelembutan namun perlahn menusuk masuk kedalm tubuhnya hingga memebekukan hati.
rangga menggetarkan tubuhnya seolah mengibaskan udarah dingin yang menusuknya, namun tak gerakan yang sia sia itu tak mampu membuat tubuhnya menghangat dan hanya memberikan sebuah sugesti untuk melakukan peregangan pada otot otot wajah yang seakn membeku.

      Tatapan rangga kini terganggu oleh awan di langit yang terlihat mengepul seperti berara dan akan tumpah menjadi hujan yang lebat, namun hal itu tidak menyurutkan tekatnya melanjutkan perjalanan kali ini, keinginannya menyambut lahirNya sang penyelamat dalam hidupnya di atas puncak gunung tertinggi di pulau ini sangat bulat dan penuh dengan semangat serta persiapan yang matang yang menambah keyakinnya akan perjalanna kali ini.

ah hanya hujan.... ! gumamnya dalam hati.

     Kini ia berada sekitar limah kilometer lagi dari tempat penitipan motor dan sekaligus pos registrasi bagi pendaki yang akan naik gunung, tetes hujan mulai turun satu persatu menerpah wajah yang terpacu dengan angin segar yang membuat badan semakin dingin, rangga memutuskan berhenti dan mengenakan jas hujan yang sudah ia siapkan. sepertinya perjalanannya kali ini akan ditemani oleh hujan yang takan berhenti begitu cepat. kembali memacu sepeda motornya setelah semuah terlindung dari basahan hujan, dia paham betul bahwa air hujan akan menambah berat perlengkapan yang ia bawa kali ini jika dibiarkan terguyur air hujan tanpa pengaman.

    Lima belas menit telah berlalu dan ia kini beradi pada posko registrasi pengunjung gunung. penjaga pos sangt ramah, menyodorkan buku registrasi pada rangga setelah melihatnya masuk dan menyapanya. 
     Setelah mengisi fom yang ada dalm buku kemudian ia pamit pada petgas setelah meletakkan helm di tempat penitipan dalam pos itu. salah satu syarat jika akan mendaki gunung ini adalah mengisi fom registrasi, itu juga untuk kepentingan dan kebaikan para pendaki itu sendiri, bukan cuma formalitas hehehee...

     Rangga menutup mata kemudian berdoa sebelum melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan setapak menuju puncak gunung kali ini. doa yang sangat singkat, memohon agar perjalannya kali ini di selamatkan dan mendapat banyak makna di baliknya. 
perjalanan dilajutkan dengan berjalan kaki melalui lebtnya hutan pinis kemudian hutan yang dingin dengan jalan setapak, ditemani hujan yang selalu meneteskan semangat bagi rangga dalam melagkahkan kakinya, sala satu keuntungan bagi pendaki jika hujan yaitu tenaga dan badan tidak akan mudah lelah karena badan akan tetap dalam keadaan dingin dan basah, tidak akan panas seperti jika jalan saat tidak turun hujan.

    Langkah demi langkah yang ia ayunkan semakin jauh semakin menantang adrenalin dan seolah olah menggoyakan mental, dan sampai lah ia pada pos pertama, pos yang ditandai degan menhir yang bertuliskan tinggi tempat ia berpijak serang, sekian kilometer diatas permukaan air laut, dan berbagai coretan coretan lain yang mengurangi keindahan menhir yang digoreskan oleh para pendki tak bertanggung jawab.
     Beristirahat sejenak dan mengumpulkan semangat yang tercecer dengan mendakinya jalan setapak yang cuup menguras tenaga sebelumnya, kemudian melanjutkan perjalanan yang akan semakin menantang di depan. jalan setapak yang dikelilingi oleh semak semak dan pohon pohon yang menjulang tinggi di kiri dan kananya.

    Langkahnya semakin melaju kedepan tanpa henti, keringat bercampur air hujan mengalir dari dahi dan menambah basah baju yang ia kenaka, tas ransel yang ia kenakan di punggung kini mulai basah karena air hujan yang mulai merembes masuk dari cela cela pembungkus yang agak longgar.

     Beberapa kilometer kini ia berjalan dan kemudian sampai pada pos pemberhentian berikut.
hamparan pemandangan hutan terlihat jelas di sana, daun daun dari pohon pohon yang menhijau seakan memberikan semangat pada rangga, dingin yang menusuk badan kini perlahan lahan mengurangi lelah yang mulai memuncahkan diri.

     Pukul 12.00 tepat kini ia berada pada pos perhentian berikut dengan perasaan lapar dan perur agak melilit kemudian memutuskan untuk berhenti dan mengeluarkan isi beka yang sebelumnya ia siapkan. bungkusan pertama yang berada paling atas ransel kini ada di hadapannya, kemudin melahapnya dengan cepat dan menenggak botol air yang diselipkan di samping ranselnya.
perutnya kini terisi penuh sebagai penambah tenaga untuk perjalanan yang sangat panjang hari ini, dia merasa makanan yang kali ini sangat nikmat tak kalah dengan sajian restoran berbintang, itu dikarenakan pemandangan di sekitar yang membuat siapapun akan melahap makanan di hadapannya dengan lahap jika berada di tempat seperti sekarang dalam keadaan perut kosong.

      Setelah beristirahat dan memulihkan tenaga, Rangga kembali melajutkan langkahnya, setelah melihat jam tangan kuna di lenagnnya , kemudian memperkiraknan berapa jam lagi kessempatan yang ia miliki agar tak sampai di puncak nantinya dalam keadaan gelap.
masi tersisah waktu sekitar 6 jam kali ini, satu jam untuk  masing masing pos jika semangatnya tak kendor dan tanpa halangan apapun, itulah rancangannya, pos terakhir akan ia tempuh keesokan harinya sekaligus berada pada puncaknya yang tertinngi.

     Perjalanan yang semakin lamah semakin menanjak menibahkan ia pada pos yang ke enam dimana pos tersebut berada pada sisi tebing batu yang sangat curam, angin di sana begitu kencang menggoyahkan posisi siapapun yang mencobah berdiri mendekkati tebing tinggi itu.
rangga mencoba merangkak mendekati sisi tebing setelah meletakkan ranselnya agak jauh darisana.
kemudian ia mengambil posisi duduk di sana, deketika angin kencang menerpah setiap titik anggota tubuhnya, membuatnya menggigil bagaikan masuk dalam rendaman air es.
usuuuuhhhhhh........ suara melegahkan badan keluar dari mulutnya menghelah nafas melegahkan segala lelah di badannya, dalam pikirnya masih ada tiga pos di depannya yang harusnya ia tempuh dengan sisa waktunya kini.

     Setelah beberapa saat duduk disana, kemudian mencoba memecah keheningan hati dengan teriakan yang sangat kencang ia keluarkan dari mulutnya, seolah olah melepaskan beban yang sangat berat yang tekumpul daam hatinya, teriakan ini kemudian membuat hatinya menjadi lebih ringan.
hanya orang yang tak tau cara menikmati alam lah yang tak melakukan hal semacm itu jika berada di tempat seperti itu dalam keadaan sendiri.

    Brteriak bekali kali akan mmbakar semangat danjuga melegahkan hati seseoran, itu adalah salah satu jurus ampuh yangdimiliki seorang pendaki yang berjalan sendiri di tengah hutan lebat seperti ini, sekan akan merindukan keramaian yang ia sengaja tinggalkan jauh dari tempat ia berada kini.

     Rangga meraskan lelah yang sangat memuncah ketika berusha mencapai pos perentian ke delapan, disanalah tempat yang akan begitu menguji akal sehat, nurani , serta tekat dan fisik yng dimilikinya, jalan yang begitu licin dan menuruni lembah yang curam dan kemudian mendapati sungai yang airnya mengalir jernih dan sangat dingin membut kaki sangat keram kemudian lanjut pada pendakian sebagai ujian penentu yang sangat sangat menanjak dan begitu membutuhkan kehati hatian dalam mengambil keputusan akan menapakkan kaki dimana dan kemana berikiutnya.
melangkah lima kali kemudian berhenti dan mencoba mempertahankan diri pada posisi itu juga msih sangat menguras tenaga, tak ada teman tak ada siapa siapa yang menemani kini, jika ia salah dalam mengambil tidakan maka akan langsung memberikan dampak yang buruk pada dirinya sendiri.

      Waktu yang tersisah sekitar satu jam lagi dan ia masih saja berjuang dalam pendakian yang sangat panjang itu, jalan yang begitu vertikal membuatnya harus berpegang pada akar akar poho yang begtu licin karena ditumbuhi lumut. terseok seok namun tetap berusaha teliti dan yang paling utama adalah tetap sadarkan diri kali ini, mengingat jalan yang ia lalui dan yang akan ia tempuh kedepan, 

   Jika berhenti dan menarik nafas dalan kemudian melanjutkan langkah rangga selalu mencoba untuk menuntun dirinya dalam pikiran positif, hanya itu kunci paling utama yang ia miliki ketika fisik mental dan semangat mulai menurun dantak ada hal lain yang bisa dilakukan. erfikir positif akan membuat pikiran dan hatinya selalu fokus dsaan takkan buyar bahkan terperangkap dalamkesunyian hutan yang mencekam kali ini.

     Dengan segala tantangan yang sangat menguras stamina bahkan kini semuanya sudah berada pada batasnya kini seolah olah sedikit terbayar dengan sedikit kepuasan ketika sampai pada pos ke delapan, oh perjuangan yang sangat menguras tenaga rangga membaringkan diri seadanya diatas rumput yang tumbuh di sekitar menhir yang sebagian sudah hancur mungkin karena sudah terlalu tuah dimakan waktu.

     Beberapa saat berbaring di sanan membuat stamina rangga sedikit pulih, namun masi tetap saja loyo dikarenakan fisiknya memang sudah tak mampuh, lain halnya engan semangatnya yang kembali memuncah seakan akan mengembalikan fisiknya yang sudah hampir roboh menjadi kuat kembali.
rangga kemudian berdiri dari tidurnya dan melangkah dengan spontan dan begitu tegas.

      Sedikit lagi....! gumam rangga dalam hati.
hari sudah mulai gelap jam tangannya menunjukkan waktu kurang dai lima belas menit pukul 19.00
pandangan di hadapannya mulai gelap, beberapa kilometer lagi ia akan sampai sesuai rencana. namun tiba tiba saja langkahnya berhenti, kakinya seakan tak terasa lagi, keram dari pangkal paha hingga ujung jari, sepertinya ini takkan bisa digerakkan lagi. 
rangga memutuskan duduk di sebuah batu mereganggkan kainya yang keram, mungkin ototnya akan kaku jika di lanjutkan, kemudian takkan mampu menyelamatkan dirinya berikut.

     Setelah berhenti cukup lama dan malam semakin dalam, akhirnya kakinya mulai terasa kembali ia bisa menggerakkannya, ditambah lagi dengan keputusannya menyalakan api yang dia tempatkan dalam sebuah kaleng bekas rokok yang ia bawa, yang berbahan bakar spritus, ia nyalakan untuk menghangatkan badan.

    Langkahnya kemudian ia lanjutkan, dengan bantuan lampu kepala ia kini menuntunnya menyusuri jalan setapak yang sangat mencekam kini, dengan semk belukat serta pohon pohon yang tak begitu tinggi, dan daun yang tak begitu rimbun, menandakan ia telah berada di atas sekian ratus kilometer diatas permukaan air laut.

    Dengan langkah perlahan dan terseok seok akhirnya membuahkan hasil. kini ia berada pada pos ke sembilan, pos terakhir yang  ia rencanakan akan mendirikan tenda untuk istirahat malam ini, memulihkan kembali tenaga yang telah habis selam perjalanan tadi.

     Rangga memilih mendirikan tenda tak terlalu jauh dari sumber air yang ada di sana, itu juga ia pikirkan untuk memudahkannya mengetahui apakah ia benar benar sendiri di tempat itu atau ada orang lain. dikrenakan sumber air itu adalah satu satunya di tempat itu.

      Setelah selesai dengan urusan membangun tenda, kini rangga melanjutkan persiapan membuat kopi untuk menghangatkan badan, dan sambul menunggu air mendidi, dia memilih memanfaatkan waktunya untuk menganti pakaian setelah membersihkan diri, baju yang ia gunakan selama perjalanan perjalanan tadi bsah degan keringat dan air hujan. itu akan membuatya kedinginan sepanjang malam jika ia tak menggantinya.
       Pakain yang ia bawa memang sudah di persiapkan sedemikian rupa sehingga tak basah biarpun ranselnya terjun kedalam air,  teknik yang ia dapatkan dalam pelatiahan bertahan hidup beberapa tahu lalu dan melekat begitu saja pada dirinya. hati yang sangat jrnih akan membuat pikiran dan hati mengambil langkah yang sama dan selalu berbarengan dalam mengambil keputisan sehingga apa yang dipilih akan sangat tepat. inilah pokok pada prinsip ranggan dalam setiap perjalannanya.

#kelanjutannya akan hadir di hari hari berikut. 

Post a Comment