PUISI NOVEL CERPEN

Wednesday, March 29, 2017

PETUALANGAN RANGGA

EPISODE 2
#KELANJUTAN AKAN DATANG SETIAP HARI

    Malam semakin larut angin yang bertiup menambah hawa dingin sekeliling tenda, saat itu juga hujan takpernah berhenti menghujam bumi dengan tetesan kecilnya, walaupun jujan yang turun tidak terlau deras namun cukup membuat seluruh pakaian menjadi basa jika mencoba bertahan di sana tanpa mengenakan apapun.
    Datangnya malam kini membuat aku semakin merasa lelah badan seolah menusuk semua otot ototku, hingga membuatku merasa harus mengistitrahatkannya sejenak. rangga memilih masuk ke dalam tenda setelah selesai menyeduh kopi dengan airpanas yang dengan susahpayah dipanaskannya dengan kompor mini yang dia gunakan. air begitu lama mendidih karena dinginnya cuaca dan udarah sekitar, dan akan semakin cepat dingin jika sudah tak berada diatas pemanas lagi. kopi kali ini harus benar benar dimanfaatkan menjadi sumber kehangatan. jika menunggu beberapa menit saja maka air akan segerah dingin dan takan memberikan kehangatan bagi tubuhnya lagi.

     Dalam tenda mencobah dudu dan mendengarkan musik klasik yang menambah keheningan gelap malam diterangi lampu tenda yang tergantung di tengah tengah tenda dan mengeluarkan cahaya sayup sayup seperti tak mampu memecak geapnya malam. rangga menutu mata dan menkmati alunan musik dengan cangkir berisi kopi panas di tangan yang coba ia manfaatkan kehangatannya.

    Alunan lagu semakin mendayu mengajaknya membayangkan setiap nada indah yang terpadu menjadi melody melody indah menyatu menjadi sebuah musik yang melambungkan hati serta menyeretnya kedalam sebuah ruang hayalan kemudian memperlihatkan keindahan yang takkan mampu dijeelaskan dengan kata. nikmat lagu yang ia dengar ditambah dengan sesekali menyeruput kopi panas dalam cangkirnya membuat tubuhnya mulai merasakan peregangan dengan sendirinya.

   Kopi yang sudah habis dengan berakhirnya lagu klasik ciptaan seorang komposer ternama dunia kini membuatnya memalinkan pandangan pada jam tagannya, sudah pukul, 22.34. sudah mulai larut malam sebaiknya beristirahat membaringkan diri di atas karpet tipis yang digunakan sebagai las tidur kini menjadi kasur empuknya. semoga besok tenagahnya pulih kembali seperti sebelumnya,.
-------------------------------------------------------------------------------


     Pagi terlihat masi seperti gelap dari dalam tenda ketika rangga membuka mata dan memandang jam tangannya. pikul 06.45, jam yang tepat jika akan bersiap melanjutkan perjalananke puncak yang masih berjarak kurang lebih epat kilometer. jarak ang lumayan untuk meneluarkan keringat pagi ini, dengan jalanan yang tingkat fertikalnya hampir sembilan puluh derajat akan menguras banyak stamina.
     Keputusan yang tepat bila memilih sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, keudin minum kopi dan lanjutkan perjalanan setelah membereskan tenda yang kemudian memasukkannya dalam ransel, kali ini tak perlu di atur sedemikian rupa lagi, karena akan dibuka juga nanti jika sudah sampai di tempat mendirikan tenda berikut yang berada dekat dengan puncak.

     Rangga sedikit kewalahan mengangkat ranselnya kini, beratnya seolah bertambah 50 kg setelahnya, namun ia berfikir bukan bebannya yang bertambah namun badanya lah yang masih belum pulih sepenuhnya, atau karena tak melakukan peregangan sedikitpun pagi ini, rangga kemudian mengambul posisi jongkok demi mempermudh ia menggendong ranselnya, ranselnya sekejap berada di pundak dan kemudian mencoba berdiri dengan bantuan sebua tongkat yang ia ambil dari ranting pohon yang telah mengering.

     Akhirnya ia bisa berdiri dan kemudian melanjutkan langkahnya perlahan satu persatu langkah ia ayuhkan dan kemudian setelah jaraknya sekitar seratus meter dari awal ia berangkat tadi ia mencoba menambah kecepatannya sebelum mencapai jalan setapak yang begitu fertikal di hadapannya, rangga ingin badannya sudah panas dan takkan keram jika nantinya berjalan mendaki melalui jalan vertikal itu.

     Keringatnya mulai timbul seperti bulir bulir beras yang menyembur keluar dari dalam kulitnya kemudian menyatu dengan yang lain dan mengalir melalui urat wajahnya. keringat yang keluar menandakan tubuhnya sudah melakukan pemanasan dan akan siapdengan tantangan di hadapannya kini.
      Rangga menghela nafas kemudian menariknya dalam dalam agar memenuhi seluru rongga paru prunya, kemudian menahanya seper sekian detik dan menghembuskanya perlahan lahan, mengarahkan pandangan kedepan. tersirat senyum dari raut mukanya tanda dirinya siap mengalahkan rintangannya kini.

      Melangkah perlahan pada bidang fertikal jalan, naik perlahan lahan mengganti kainya kiri dan kanan. jarak yang ia akn tempuh kini masih terisah beberapa kilometer lagi dan ia akan membayarnya dengan kepuasan tersendiri, bayaran yang sebanding dengan perjuangannya.
pemandangan di belakangnya seolah menggoda mata untu menoleh dan kemudian berlama lama di sana, namun itu tidak akan menguntungkan rangga dikarenakan semakin lama ia memandangi kendahan itu maka semakin lelah juga tangannya berpegangan pada tali pengaman yang mmbantunya menaiki tebing itu. perlahan ddengan pasti ia melangkah menarik diri menaiki tebing itu berhati harti menapakkan kaki dan mencari pegangan yang tepat.

     Dengan usahanya yang begitu bertekat dan semangat yang ia miliki perlahan ia menjauh dari dasar tebing dan kemudian menuju tengah tebing yang curam, pemandangan dari atas tebing tetap saja menggoda matanya untuk tetap menikmati pemandangan yang ia hamparkan baginya.
rangga kemudian meyakinkan dirinya dan menguatkan benak hatinya untuk tak tergoda sebelum sampai pada batas tebing yang aman untuknya menikmati pemandangan itu.waktnya. ia mencoba menanamkan dalam dirinya bahwa semua akan indah pada waktu yang tepat namun bukan sekatrang.

      Rangga melanjutkan langahnya yang masih setengah perjalanan diatas tebing fertikal dimana ia berada saat ini, sunggu godaan yang sangat menantang batin hati dan pikiran yang kemudian resikonya jika teergoda akan menguras tenaganya sehingga bisa saja ia takkan mampu melanjutkan perjalannya naik.

      Puncak masih berjarak bebrapa kilometer di atas sana ketiak ia menghelah nafas panjang setelah ia mencapai akhir dari tebing vertikal yang ia panjat utadi, jalan itu adalah satu satunya jalan menuju puncak yang membuat para pendaki menantang diri mereka ketika ingin mencapai puncak. dan tak jarang dari mereka yang akan menyerah dan pulang dengan kehampaan dan seribu rasa penasaran yang ada jika tak mampu mencapai puncak.

       Panyak yang perlu dipahami ketika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan atau memilih mundur ketika dihdapkan pada rintangan seerti ini, rintangan ini adalah salah satu penghalang jalan yang tak semua orang bis menembusnya, disana juga keputusan yang tepat harus di ambil dan harus menerapkan standar khuus demi keselamatan diri atau tim secara keseluruhan.

      Dalam mencapai puncak rangga merasa tak perlu buru buru, kali ini cuaca takkan pernah berubah, hujan gerimis takkan pernah berhenti dan mendung takkan pernah berubah, doanya hanyalah semoga di tempat penginaan nanti cuaca masi sama dan tak terjadi badai yang akan memaksanya turun kembali pada perhentian sebelumya.

      Rangga duduk pada teih tebing batu yang terlihat kokoh dan menjulang tinggi diatas seluruh hamparan pemadangan di hadapannya kini, pemandangan yang dari tadi menggoda matanya, sekarang ia dapat menikmati hampara hutan lebat yang sangat hijau, keindahan ciptaan Tuhan diperlihatkan dari atas sana yang kemudian memanjakan setiap mata para penikmat alam.

      Nampak jauh disana hamparan sawa para petani yang sebagian besar sudah mulai mengijau dan sebagian masih kosong sementara dalam proses pembajakan, drisana nampak jelas terlihat keindahan yang sangat sulit di jelaskan, keindahan yang selalu menggoda rangga utu kesekian kalinya datang dan melihat keindahan itu.

      Sebelah kirinya terhampar hitan luas dan begitu hijau tak terbercelah, semua dipenuhi dengan tumbuhan hijau, menampakkan kedasyatan kuasa sang pencipta dalam mengasihi umat manusia. nampak jauh kesan terhanpar padang rumput luas hingga membatasi padangan, nampak pohon pohon berjajar yang terliat memiliki jarak yang sama satu dengan yang lainnya sepertinya itu ditanam dengan tujuan khusus. padang rumput yang sangat luas itu sebenarya bukan rumput namun perkebunan teh dan peternakan milik perusahaaan yang tenama di tempat itu. pemandangan yang tak kalah menakjubkan dibanding pemandangan yang berada di hadapanya.

      Sebelah kananya juga terhamar luas seluruh hutan yang menghijau seperti pemandangan di hadapannya dan juga sebelah kirinya, namun yag berbedah adalah pembatas pandangannya bukan padang rumput ataupun hamparan sawa namun pandagannya dibatasi dengan hamparan laut yang biru. darisana juga nampak sisi kota yang nampak seperti sebuah bagian kecil dari hamparan hijau yang ada, sengguh pemandangan yang sempurna.

       Sebelakangnya terdapat menhir penunjuk, yang menjelaskan dia berada pada ketinggian berapa dari permukaan air laut, menhir itu masih terwat dengan baik berbedah dengan menhir sebelumnya yang beberapa sudutnya telah tiada bahkan seperti telah keropos dan ditmbuhi lumut,  di sekitarnya kini juga berbedah dari jalan yang ia susuri sebelumnya, sekarang tak da lagi  pohon pohom besar yang menjulang tinggi menaunginya, sekitarnya hanya dipenuhi dengan tumbuhan ilalang dan semak belukar yang tebal melebihi tinggi tubuh orang dewasa, di dalamnya terselip beberapa batang pohon kecil yang seolah kerdil dan enggan tumbuh menjulang ke atas.
rangga kemudian melanjutkka perjalanay setelalah puas menatap dan meraup segalah kindahan di hadapannya yang takkan mampu ia habiskan.

      Perjalanan kini masi menantang dan jalanan yang ia akan lalui lebih dari sekkedar jalur vertikal namun bukan tebing, jalan kini dipenuhi dengan batu batu sebesar kepalan tangan yang selalu siap berguling kebawah jika salah dalam memijakkan kaki, dan tentunya akan membuatnya terperosok atau bahkan terguling jatuh kedalam jurang yang entah samai dimana ujungnya.jalur vertikal ini juga diberi tali pengaman yang akan menjadi pengangan para pendaki yang akan melaluinya,

      Sebelum melanjutkan lagkanya pada jalur vertikal ini rangga memasang pengait pada tali pengaman kemudian menghubungkannya dengan tali pengaman yang ia pasang pada tubuhnya,itu untuk menjaganya tetap berada pada jalur dan untuk keselamatannya jika terjadi kesalahan yang setidaknya akan membuatnya selamat. hal ini sahat lah penting utuk diperhatikan.

      Perjalanan menjajaki jalur vertikal ini takterlalu menyuguhkan godaan bagi ata dan disana juga rangga malah susah untuk melihat sekitarnya dikarenakan kabut yang tiba tiba datangdan menyelimutu pandangannya, kanut yang cukup tebal dan membatasi pandangan sekitar yang sekarag tingal kira kira hanya dua sampai tiga meter saja tantangan yang baru kini bertamba, sesekali rangga mengecek ketepatan tali pengaman yang terikat dengan tubuhnya, dan kemudian memperhatikan medan diman ia kan menapakkan kakinya, bebrapa batu mulai berguling kebawa jika tanpa sengaja rangga menyentuhnya dan dia tak lua berteriak kebawa jika satu batu terjun kebawah, itu untuk memperingatkan orang yang jika kebetula berada dalam jalur yang sama di bawahnya, itu teknik stadar yang ia ketahui, untuk keselamatan bersama.

      Sekitar tiga ratus meter medan vertikal itu dia lalui dengan begitu perlahan dan kemudian ia berada pada jalur yang tajam, samping kiti dan kananya adalah jurang, kini dia berada di atas ketinggian yang bukan main lagi di antara dua tebing yan sangat sempit namun dalam, dengan kabut yang seakan semakin lama semakin menebal, beberapa tali pengaman di kiri dan kana  terlihat masih koko dan baru, mingkin saja para pedaki baru saja menggantinya.

       Jalur ini datar dan kemudian sedikit menanjak di ujungnya yang kemudin menyajikan tebing vertikal sekitar sepuluh meter tingginya, yang harus di taklukan lagi dan lagi, perjuangan masih belum sampai di sini, tebing setinggi sepuluh meter itu bukan rintangan terakhir namun tantangan berikut adalah kedua belah tebing yang berjarak dua puluh tiga meter harus ia sebrangi, walaupun disana telah tedapat tali yang kokoh untuk menyebrang namun ini tetap saja akan menatang setiap orang yang akan melewatiya, dalam tebing takperah di ukur dan dasarnya tak nampak dari atas sana, ini terlihat mengerihkan namun juga penuh dengan tantangan.

      Alat dipasang pada tali penyebrangan dan mulai mengikatkan  ransel bawaannya pada tali penyebrangan yang lain, taklupa ia kaitkan tali yang kenudian ia pegang, jarak tali yang satu cukup dengan apain tangan itu sudah dirancang khusus sebelumnya oleh tim pendaki yang datang memasangnya benar benar pekerjaan yang menantang bagi mereka sebelumya. banyak pelajaran yang harus dipelajari tentang gunung ini jika sesekali kita menginginkan untuk menaklukkannya, jiba tekat dan smangat yang kuat dan besar sangat menentukan keberhasilan kita.

      Dengan mudah rangga melalui rintangan ini dan keudian sampai pada sisi lain tebing yang menghamparkan semak semak dan beberapa pohon kecil didalamnya, seperti pada tempat sebelumnya namu semak kali ini lebih kerdil dan tampak  begitu tak subur. sekitar duaratus meter di depannya terdapat sumber air dan sedikit dataran untuk para pendaki mendirikan tenda, ia bergegas menuju ke sana. setelah mendekat kesana sekitar sepuluh meter di depannya ada sebuah tenda berwarna biru bepadu dengan oange terpasang kokog di balik semak yang takbegitu tinggi, namun tak satu orang pun tampak di sekitarnya, rangga mendekatinya lalu kemudian meninjau sekitar mencari keberadaan pemilik tenda namun yang ia dapati hanya dua pasang sendal yang berada di samping tenda.
       Rangga kemudin memandangi sekelilingnya lagi hendak mencari posisi yang tepat mendirikan tendanya. kini rangga berjaalam pada sisi kiri tenda yang tadi kemudian meurunkan ranselnya dan membersihkan batu batu kecil di dekitarnya, itu akan lebih baik jika di singkirkan karena jika emenempatkan tenda diatas batu kecil ini akan mengganjal belakangnya jika tidur nanti.

      Beberapa menit kemudian tenda rangga dengan mudahnya telah beres dan berdiri kokoh, jaraknya dengan tenda tadi sekitar lima meter dan berada tepat di sebelah tebing batu setingi dua meter, tempat tersebut dipilihya agar dapat terlindung dari badai yang beraal dari belakang tebing jika saja cuaca datang lebih buruk dari perkiraan.Di sebelah kiri tebing yang menjulang lebih tinggi dari tebing yang tepat dibelakang tendanya itu terdapat sumber air yang menetes dari dalam batu kemudian mengalir pada beberapa goresan goresan yang kemudian menyatukannya menjadi sebua aliran dan akhirnya cukup mengalir deras pada sebua saluran pipa yang panjangnya sekitar lima belas sentimeter. sumber air inilah satu satunya sumber air yang ada di atas ketinggian ini, di san terpampang beberapa papan peringatan dan apan eratura yang harus dipatuhi agar sumber air itu tetap terjaga dengan baik, seperti dilarang membuang sisa makanan dan sampah apapun di sekitar sumber air, atau dilarang merusak penampungan air dan masih bayak lagi aturan lainya.

# CERITAYA AKAN DATANG SETIAP HARI
Post a Comment