PUISI NOVEL CERPEN

Thursday, March 16, 2017

Dongeng

DALANA
(Dalam bahasa toraja) artinya si licik


Di sebuah desa hiduplah seorang pemuda bernama dalana ia adalah pemuda yang cerdas, berwibawa dan sangat karismatik dalana sangat tampan parasnya.
Namun dikarenakan kelebihannya itu ia tidak mencerminkan sikap yang baik, ia pemuda yang sangat malas, dia hanya berkeliling kampung setiap hari, tidur dan jalan kesana kemari.

Suatu ketika di desa itu seluruh warga yang msuk kedalam hutan, hendak membuka lahan. Para warga bergotong royong melakukan pembukaan lahan baru, pada musim tahan nanti mereka hendak menanam jagung pada lahan baru yang mereka buka.
Disana mereka bekerja sangat keras Setiap hari, membersihkan rumput dan semah semak.

Hak ini juga diketahui oleh dalana, namun karena ia dalah pemuda yang malas dan kelakuannya tak baik maka masyarakat sekitar tidak menghiraukan dia. Tidak ada yang mau bekerja sama dengannya.

Kemudian dalana berfikir, ia memutar otaknya,  mencari cara agar ia juga dapat hasil yang akan ia dapat nantinya.
Ia kemudian mendapatkan caranya.
Dia berkeliling pada setiap lahan yang akan di buka oleh masyarakat.
Kemudian mendahuluinya di depan.

Ia tidak membuka lahan, itu sangat tidak mungkin ia lakukan, apalagi Ia juga sangat malas melakukan hal tersebut.
Ia hanya menandai pohon pohon besar dalam hutan Yang akan digunakan oleh masyarakat. Kemudian ia mengumumkan bahwa pohon kayu yang ada dalm lahan mereka tidak boleh mereka tebang, karena itu adalah kayunya.

Para masyarakat hanya tertawa dan memenuhi permintaannya, yang menurut ,ereka juga cukup masuk akal.
Pohon itu tidak akan mengganggu tanaman jagung kita nantinya, pohonnya kan tinggi dan jagung akan subur tumbuh dibawanya.

Jadi seluruh masyarakat di desa itu tidak menebang pohon besar yang telah ditandai dan menjadi milik dalana secara pribadi.
Pohon itu hendak dibuat menjadi bahan bangunan nantinya. Itu penjelasan yang dalana berikan kepada mereka.

Setelah beberapa bulan berjeripayah masyarakat telah selesai mengerjakan bagian pembukaan lahan. Kemudian tiba saatnya mereka menanam jagung di lahan mereka, masyarakat melakukan ritual adat yang sangat dipengan erat dalam desa itu, upacara adat sebelum menanam di sawah maupun ladang, meminra pertolongan sang maha kuasa agar diberi hari dan cuaca yang bai, kesuburan dan dijauhkan dari segala hama penyakit. Kemudian setelah ritual itu selesai masyarakat kembali turun ke ladang mereka kemudian menanam secara gotong royong, sehingga pekerjaan mereka sangat lah cepat dan selesai tepat waktu.

Dalana pada saat itu hanya diam di rumah, sesekali ia jalan jalan berkeliling melihat para masyarakat desa yang sedang menanam di lahan mereka. Masyarakat Yang melihat kelakuannya sangat sedih, mencibir bahkan menghiananya, ada juga yang menertawakannya.

Hei kau pemalas jika ladang kami berhasil nanti dan engkau tidak memiliki makanan jangan harap kau akan mendapat belas kasihan dari kami. Kau sangat malas, pekerjaanmu hanya berkeliling, menghitung pohon yang kau bangga banggakan itu. Nanti juga kau akan makan batang pohon itu.

Dalana hanya tersenyum manis kepada mereka, ia melanjutkan menghitung pohon pohon Yang telah ia tandai, cukup banyak juga pohon ini, nanti aku akan panenbesar. Pohon akan menghasilkan panennya dengan sendiri. Menurut perhitungannya dia akan panen lebih besar dari pada siapapun masyarakat dalam kampung itu. Entah apa yang ia rencanakan.

Beberapa lama setelah penanaman selesai penanaman masyarakat kembali turun ke lapangan mereka, membersihkan gula yang menggangu pertumbuhan jagung mereka.
Dalana hanya berkeliling menghitung pohon pohonnya,  melihat pertumbuhan pohonnya yang semakin tinggi dan semakin besar.
Pohon pohon itu merata di setiap kebun milik masyarakat kampung.

Masyarakat kembali menertawakan apa yang ia lakukan, mencaci bahkan memaki dalana.
Dia hanya tersenyum bahkan kembali menertawakan mereka.
Masyarakat kini sudah menganggap dia gila, atau kurang waras.
Namun itu lah dalana dia memiliki kecerdasannya sendiri, menyusun rencana Yang ia yakini sendiri.

Masyarakat desa memang sangat tekun dan selalu bersemangat melakukan kegiatan mereka setiap hari. Merawat dan membersihkan tanaman jagung mereka, sehingga hasil dari apa yang mereka lakukan selama ini memang memperlihatkan hasil Yang begitu memuaskan, jagung mereka tumbuh subur dan sangat besar dan tinggi tinggi.
Msatarakat pun sangat bergembira melihat tanaman jagung mereka Yang sebentar lagi akan mengeluarkan buah Yang akan berlimpah limpahan.

Namun lain juga dengan dalana yang lebih gembira lagi melihat kejadian ini, ia sptertawa melihat tingkah masyarakat desa yang bergembira itu.
Dan menghiraukan cibiran dan sindiran dari masyarakat.

Hingga tibalah suatu ketika dimana kebun jagung itu sedap mengeluarkan buah, jagung jagung masyarakat Yang sangat sehat dan tumbuh dengan sangat baik, mengeluarkan buah yang besar besar dan sekarang akan mulai berisi.

Tibalah saat dimana dalana melaksanakan rencananya, rencana yang sudah ia rancang dengan baik sebelumnya. Rencana yang ia banggakan sebelumnya sebentar lagi akan berhasil.
Dalana kemudian mengumumkan kepada seluruh masyarakat di desa itu, bahwa ia akan menebang pohonnya saat ini juga, dia kan membangun sebuah rumah besar dan lumbung besar. Sehingga ia sudah sangat membutuhkan kayu sebangai bahan bangunannya itu.

Masyarakat mengetahui hal itu, dan kemudian memanggil dalana unruk berunding.
Dalana mengikuti kemauan mereka.
Masyarakat tidak mengijinkan pohon dalam ladang jagung mereka ditebang oleh dalana saat itu, dikarenakan jika pohon itu ditebang maka akan merusak seluruh tanaman jagung mereka yang belum siap untuk di panen.Namun dalana juga tetap bersikeras akan menebang pohonnya sat itu juga, dan ia akn segera menyelesaikan rumah dan lumbung nya.

Masyarakat kemudian memohon kepadanya.

Tolong lah kapan pun kau boleh menebang pohon pohon mu namun lihatlah waktu yang lain, setelah ladang jagung kampung di panen baru engkau menebangnya. Kata masyarakat kepadanya.

Aku hanya akan menunda penebangan pohon itu jika kalian memenuhi syarat yang aku berikan !  Jawabnya dengan tegas.

Katakan apa syarat itu!
Masyarakat kemudian antusias dan m pingin tau apa syarat yang diberikan dalana.
Kalian harus memberikan 1/4 dari hasil kebun masing masing dari kalian. Dan itu jika kalian menguginkan pohonnya tidak saya tebang sebelum kalian panen.

Masyarakat kemudian berunding kembali memikirkan syarat yang diberikan dalana. Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan persetujuan dalana tidak boleh menebang pohon yang ada dalam kebun wargq sebelum jagung mereka panen.

Dalana pun memaparkan car pembagian dari setiap masyarakat. Jika merk memiliki kebun 100 meter persegi berarti ia mendapatkan 25 meter persegi dari lahan jagung itu. Dan itu harus di setujui oleh masyarakat.

Dengan berat hari masyarakat kini mengikuti syarat yang diberikan dalana, biarpun mereka kecewa namun lebih baik2 jika kita mendapatkan sebagian dari hasil jeri payah kita selama ini daripada Tidak ada sama sekali. Itulah jalan yang mereka sepakati.
Saat itu juga dalana menuju dari setiap lahan masyarakat yang menjadi pilihannya.
Disana ada sekitar 100 orang lebih dan masing masing ,e,iliki lahan sekitar 2 hektar atau lebih, dalana yang cerdik saat itu menghitumg lahan ,miliknya dan tanpa bekerja Keras pun layaknya masyarakat lain ia juga bisa memanen jagung dipengan musim panen nanti, bahkan dialah yang  memiliki kebun jagung terbanyak dari semua masyarakat desa.

Saat panen tiba masyarakat memenuhi lumbung mereka dengan jagung, bahkan sampai 2 lumbung penug sekaligus, lain Hal dengan dalana .
Dia mampu mengisi lumbung nya dua kali lebuh banyak dari masyarakat Para umumnya, karena kecerdikannya dia memiliki rumah yang besar lumbung yang Banyak serta isinya yang begitu banyak.

Saat ini ia telah memanfaatkan pikirannya dengan baik, namun sikap seperti ini sangatlah tidak baik dijadikan contoh dalam kehidupan kita.
Apapun itu harus kita capai dengan kerja keras, bukan hanya malas malasan dan menipu orang dengan kemampuan Yang kita miliki.

TAMAT. ....

Post a Comment